Abu Sangkan: Sholat, Cara Mudah Menyatu Dengan Tuhan
Surabaya
Menengadahkan kepala ke langit, agar roh benar-benar bebas dari jasad. Roh menjadi panutan bagi tangan, kaki, dan badan, dalam mencari tuhannya (Allah), menyatu dalam kekhusuyu’an ibadah (sholat).
Itu salah satu inti ajaran Abu Sangkan. Selama dua hari, Sabtu-Minggu (7-8) April 2007, memberi pelatihan sholat khusyu kepada sekitar 200 umat islam di Hotel Equator, Jl Kris Kencana, Surabaya, Abu Sangkan yang lebih dikenal sebagai guru spiritual jalan pintas bertemu Allah, memberikan metode-metode praktis mencapai sholat khusyu.
Syaratnya, pesan Abu Sangkan, roh harus merdeka dari tubuh. Jika selama ini roh ada karena jasad ada, maka pada saat menunaikan sholat, logika itu dibalik. Roh independen, sementara tubuh hanya bisa diam. “Saat kita berada di dalam kamar, tubuh kita tidak perlu pergi jauh mencari tuhan (Allah). Biarkan roh kita yang bergerak, pergi menemui tuhannya (Allah),” kata Abu Sangkan.
Sepintas, ungkapan dari ajaran itu lebih bermakna filosofi. Tetapi ketika dicerna lebih dalam, pesan yang disampaikan sebenarnya sangat mudah dipahami. Apalagi ketika kita diajak menyelami praktik sholat khusyu itu sendiri, maka kita tidak akan pernah merasa lelah berediri, ruku’, dan sujud sepanjang hari.
“Setelah roh benar-benar lepas dari badan, dengan sendirinya badan akan bersujud dalam keheningan,” kata Abu Sangkan. Ketika sujud, lanjut Abu Sangkan, sebenarnya memiliki makna lebih dalam. Lepas dari konteks religi, kesempurnaan sholat khusyu memiliki korelasi penting terhadap kesehanan tubuh manusia. Saat sujud, aliran darah mengalir lancar ke otak karena posisi kepala berada pada bagian terendah. Begitupula saat ruku’, melatih kekuatan otot-otot lutut dan paha yang menyanggah tubuh dalam posisi miring.
Panduan praktis itu dengan mudah dipahami ratusan peserta pelatihan sholat khusyu, dari berbagai usia. Begitu diajak Abu Sangkan belajar ‘melepaskan’ roh dari badan, mereka larut dalam keheningan. Bahkan, tidak sedikit dari peserta yang awalnya brdiri berjatuhan ke lantai. Mereka sujud, menyatakan pasrah kepada tuhannya.
Begitupula saat mengangkat kedua tangan ke langit, lalu mengucapkan Allah….Allah…, tidak jarang peserta meneteskan air mata. Salah seorang peserta menangis sekeras-kerasnya, meminta pengampunan atas dosa-dosa yang ia perbuat. “Jika sebelumnya sholat hanya rutinitas sehari-hari, kini lebih bermakna,” kata Sri Rahayu Ningsih, salah seorang peserta sholat khusyu.
Perempuan berusia 43 tahun itu mengaku tertarik menjadi peserta pelatihan sholat khusyu, karena dia merasa ibadah (sholat) yang dilakukan selama ini sia-sia, dan tidak berbekas. “Kini saya bisa sholat lebih tenang,” katanya.
Abu Sangkan menyebutkan, untuk mencapai ketengan dalam sholat, satu yang harus diyakin bahwa semu yang dimiliki, roh dan badah, akan kembali kepada-Nya. Itu sesuai ayat Al-Quran yang menyatakan, kembalilah kepada tuhanmu, lalu masuklah kedalam surgaku ‘irji’I ila radhiyatan mardiyah, fadkhuli fi ibadi, wadkhuli jannati’. st24